Oleh: 8u9a | Maret 2, 2011

inovatif Culture on Vilag

Pemilu aneh tapi nyata

Selingan cerita kampung

Kampung Plembangan Jogotirto Berbah Sleman Yogyakarta dalam masa kepemimpinan rukun warga yang disingkat rw: 26 Dusun Bulu Desa Jogotirto mengadakan pemilihan umum terbuka tidak seperti biasanya. Pak Rw di tahun sebelumnya dipilih oleh rapat kampung yang diadakan 35 hari sekali atau selapanan yang dihadiri oleh warga bapak-bapak yang sudah berkeluarga, kini giliran kepemimpinan periode 2011 sampai 2014 dipilih seperti pemilihan Lurah kepala desa, pilkada atau pemilu presiden.

Anehnya dalam kampanye mereka mengatakan “jangan pilih saya!” ini bedanya dengan pemilu lain.

 

Hak suara berjumlah kurang lebih 250 yang terdiri dari lazimnya hak pilih WNI yaitu umur 17 tahun keatas tanpa kecuali, RW 26 membawahi 2 RT yaitu rt 06 dan 07.

Calon RW hanya ada 2 yaitu Sujadi dan Jumadi, setelah pemungutan suara berjalan membuahkan hasil selisih 5 suara yang dimenangkan oleh Jumadi. Anehnya lagi jago yang kalah malah syukuran di malam harinya. Haja haja haja………………

Oleh: 8u9a | Februari 1, 2011

PEMBELAJARAN EFEKTIF

PEMBELAJARAN KONTEKTUAL DAN BERFIKIR KRITIS

Pendahuluan

1. Latar Belakang

Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan SLTP membawa konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model pembelajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran (subject matter based program) ke model pembelajaran berbasis kompetensi (competencies based program). Model pembelajaran berbasis kompetensi bermaksud menuntun proses pembelajaran secara langsung berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan kemampuan. Pengajaran berbasis kompetensi menuntut perubahan kemasan kurikulum, dari model lama berbentuk silabus yang berisi uraian mata pelajaran yang harus diajar ke dalam kemasan yang berbentuk paket-paket kompetensi. Hal ini membawa konsekuensi bahwa proses pembelajaran harus berorientasi pada pembentukan seperangkat kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal demikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa agar mencapai hasil yang maksimal. Oleh kerana itu peran guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan, antara lain : (a) peranan guru sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong, (b) peserta didik adalah individu-individu yang kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara belajar sesuatu yang berbeda pula, (c) proses belajar mengajar llebih ditekankan pada belajar daripada mengajar (Laster, 1985).

    Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan pergeseran peran guru dalam pembelajaran, yaitu :

  1. Cara pandang guru terhadap siswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai obyek pengajaran, tetapi siswa sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Dalam diri siswa terdapai berbagai potensi yang siap dikembangkan. Oleh katena itu dalam konteks pembelajaran guru diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
  2. Guru diharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa berhubungan dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di masyarakat. Antara lain dengan cara memberikan tantangan yang berupa kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat yang terkait bidang studi. Melalui kegiatan tersebut diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai bekal kemandirian dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam mengembangkan potensi masyarakatnya.

 

  1. Prinsip pembelajaran KBK

Prinsip pembelajaran yang dikembangkan untuk mencapai kefektifan dan efisiensi pengelolaan KBK di SLTP, antara lain :

  1. Pembelajaran berfokus pada siswa (student cenrtered), artinya orientasi pembelajaran terfokus kepada siswa. Siswa menjadi subyek pembelajaran dan kecepatan belajar siswa yang tidak sama perlu diperhatikan.
  2. Pembelajaran terpadu (integrated learning), maksudnya pengelolaan pembelajaran/KBM dilakukan secara integratif. Semua tujuan pembelajaran yang berupa kemampuan dasar yang ingin dicapai bermuara pada satu tujuan akhir, yaitu mencapai kemampuan dasar lulusan.

    Pembelajaran individu (individual learning), artinya siswa memiliki peluang untuk melakukan pembelajaran secara individual.

    Belajar tuntas (mastery learning), maksudnya pembelajaran mengacu pada ketuntasan belajar kemampuan dasar melalui pemecahan masalah. Setiap individu dan kelompok harus menuntaskan pembelajaran satu kemampuan dasar baru belajar ke kemampuan dasar berikutnya.

    Pemecahan masalah (problem solving), artinya proses dan hasil pembelajaran mengacu pada aktifitas pemecahan masalah yang ada di masyarakat, yaitu dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual.

    Experience-based learning, yakni pembelajaran dilaksanakan melalui pengalaman-pengalaman belajar tertentu dalam mencapai kemampuan belajar tertentu.

    Selain pemanfaatan prinsi-prinsip tersebut, guru dimungkinkan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran lain yang sesuai dengan tuntutan perkembangan.

 

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

  1. Belajar Aktif

Winkel (1996) mendefinisikan belajar sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, dan sikap. Perubahan itu bersifat tetap dan berbekas. Belajar dapat dipandang sebagai usaha untuk melakukan proses perubahan tingkah laku kearah menetap sebagai pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya.

Belajar merupakan usaha seseorang untuk membangun pengetahuan dalam dirinya. Dalam proses belajar terjadi perubahan dan peningkatan mutu kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan siswa, baik dari segi kognitif, psikomotor maupun afektif.

Belajar aktif (sering dikenal sebagai “cara belajar siswa aktif”) merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari belajar aktif. Untuk dapat mencapai hal tersebut, kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar bermakna bagi siswa. Belajar yang bermakna terjadi bila siswa berperan secara aktif dalam proses belajar dan akhirnya mampu memutuskan apa yang akan dipelajarinya.

Belajar aktif merupakan perkembangan dari teori Dewey learning by doing (1859-1952). Dewey sangat tidak setuju pada rote learning “belajar dengan menghafal”. Dewey merupakan pendiri sekolah Dewey School yang menerapkan prinsip-prinsip learning by doing, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Keingintahuan siswa akan hal-hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses belajar. Menurut Dewey, guru berperan untuk menyediakan sarana bagi siswa untuk dapat belajar. Dengan peran serta siswa dan guru dalam belajar aktif, akan tercipta suatu pengalaman belajar yang bermakna.

Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman.

Melalui pendekatan belajar aktif, siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya. Di samping itu siswa secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara sistematis, kritis, tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya.

Selanjutnya, belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa. Untuk itu guru diharapkan memiliki kemampuan :

Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran.

Berkreasi dan mengembangkan gagasan baru

Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh di masyarakat

Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat

Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku siswa secara bertahap dan utuh

Memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya

Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.

Dengan demikian, belajar aktif diasumsikan sebagai pendekatan belajar yang efektif untuk dapat membentuk siswa sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kemampuan untuk belajar mandiri sepanjang hayatnya, dan untuk membina profesionalisme guru.

 

  1. Pembelajaran

Mengajar atau “teaching” adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar (Joyce dan Well, 1996). Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pengertian ini terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekat perencanaan atau perancangan (disain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang mungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran menaruh perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa”, dan bukan pada “äpa yang dipelajari siswa”. Dengan demikian perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengorganisasi pembelajaran, bagiaman cara menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal. Pembelajaran perlu direncanakan dan dirancang secara optimal agar dapat memenuhi harapan dan tujuan.

Rancangan Pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pembelajaran diselenggarakan dengan pengalaman nyata dan lingkungan otentik, karena hal ini diperlukan untuk memungkinkan seseorang berproses dalam belajar (belajar untuk memahami, belajar untuk berkarya, dan melakukan kegiatan nyata) secara maksimal.
  2. Isi pembelajaran harus didesain agar relevan dengan karakteristik siswa karena pembelajaran difungsikan sebagai mekanisme adaptif dalam proses konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi pengetahuan, sikap, dan kemampuan.
  3. Menyediakan media dan sumber belajar yang dibutuhkan. Ketersediaan media dan sumber belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar secara konkrit, luas, dan mendalam, adalah hal yang perlu diupayakan oleh guru yang profesional dan peduli terhadap keberhasilan belajar siswanya.
  4. Penilaian hasil belajar terhadap siswa dilakukan secara formatif sebagai diagnosis untuk menyediakan pengalaman belajar secara berkesinambungan dan dalam bingkai belajar sepanjang hayat (life long contiuning education).

 

3. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran efektif adalah pembelajaran dimana siswa memperoleh keterampilan-keterampilan yang spesifik, pengetahuan dan sikap serta merupakan pembelajaran yang disenangi siswa. Intinya bahwa pembelajaran dikatakan efektif apabila terjadi perubahan-perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor (Reiser Robert, 1996).

a. Ciri-ciri pembelajaran efektif :

  • Aktif bukan pasif
  • Kovert bukan overt
  • Kompleks bukan sederhana
  • Dipengaruhi perbedaan individual siswa
  • Dipengaruhi oleh berbagai konteks belajar

b. Kriteria :

  • Kecermatan penguasaan
  • Kecepatan unjuk kerja
  • Tingkat alih belajar
  • Tingkat retensi (Reigeluth & Merril, 1989)

     

4. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Landasan filosofi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak siswa sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.

Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Siswa perlu menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan demikian siswa memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya ini, siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuan belajar. Oleh karena itu guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan, keterampilan) datang dari menemukan sendiri, bukan dari apa kata guru.

Pembelajaran kontektual merupakan salah satu dari sekian banyak model pembelajaran, pembelajaran kontekstual dikembangkan dengan tujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya.

 

a. Perbedaan pembelajaran kontektual dan konvensional

    Pola pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional yang selama ini dikenal. Perbedaan tersebut tergambar dalam tabel berikut.

 

Pembelajaran Konvensional 

Pembelajaran Kontektual 

  • Menyandarkan pada hafalan 
  • Menyandarkan pada memori spasial
  • Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
  • Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan individu siswa
  • Cenderung terfokus pada satu bidang tertentu
  • Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang 
  • Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan
  • Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa
  • Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian ulangan
  • Menerapkan penilaian auntentik melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah

 

b. Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual.

Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (contructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Model pembelajaran kontektual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.

c. Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual

Penerapan model pembelajaran kontekstual dalam kelas secara garis besar mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
  4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

     

d. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

    Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peran guru. Untuk itu guru dalam menggunakan pendekatan pengajaran konekstual memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

  1. merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa (developmentally appropriate)
  2. membentuk group belajar yang saling ketergantungan (interdependent learning group)
  3. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning) yang mempunyai karakteristik : kesadaran berfikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan.
  4. Mempertimbangkan keragaman siswa (disversity of student)
  5. Memperhatikan multi-intelegensi siswa (mltiple intelligences), spasial-verbal, linguistic-verbal, interpersonal, musikal ritmik, naturalis, badan-kinestetika, intrapersonal, dan logismatematis. (Gardner, 1993)
  6. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berfikir tingkat tinggi.
  7. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).

 

  1. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

    1. Adanya kerjasama
    2. Saling menunjang
    3. Menyenangkan, tidak membosankan
    4. Belajar dengan bergairah
    5. Pembelajaran terintegrasi
    6. Menggunakan bebagai sumber
    7. Siswa aktif
    8. Sharing dengan teman
    9. Siswa kritis, guru kreatif
    10. Laporan kepada orang tua berujud, rapor, hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan siswa, dll.

     

f. Penilaian

    Penilaian dilakukan dengan menggunakan penilaian authentik, yang mempunyai karakteristik sebagai berikut :

  1. Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
  2. Menggunakan penilaian formatif maupun sumatif
  3. Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
  4. Berkesinambungan
  5. Terintegrasi
  6. Digunakan sebagai umpan balik.

 

Hal-hal yang digunakan sebagai dasar penilaian prestasi siswa meliputi :

    Penilaian kinerja (performance assessment)

  1. Observasi Sistematik (Systematic observation)
  2. Portofolio (portofolio)
  3. Jurnal Sain (Journal)
  4. Penilaian mencakup umpan balik dan berbagai bentuk refleksi

 

4. Mengembangkan sikap kritis dan kreatif siswa

    Sebagai salah satu ciri pembelajaran kontekstual adalah sikap kritis siswa dan kreatif guru dalam proses pembelajaran. Berfikir kritis dan kreatif merupakan komponen utama berfikir tingkat tinggi (higher order thinking). Proses berfikir tingkat tinggi harus dikembangkan pada setiap diri siswa. Hal ini merupakan tugas guru, karena guru harus megembangkan potensi siswa semaksimal mungkin hingga mencapai kemampuan yang tinggi pada setiap diri siswa. Oleh karena itu pembelajaran dituntut dapat mengembangkan siap kritis dan kreativitas siswa. Sikap kritis dan kreatifitas siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang berpusat pada otak kanan. Otak kanan mempunyai kemampuan berfikir kreatif, holistik, spasial. sedangkan otak kiri mengembangkan kemampuan berfikir rasional, analitis, linier. Otak kiri mengendalikan wicara dan otak kanan mengendalikan tindakan. Tabel berikut ditunjukkan perbedaan proses berfikir otak kiri dan kanan.

 

Berfikir Konvergen

(Proses di belahan otak Kiri) 

Berfikir Divergen

(Proses di belahan otak kanan) 

  1. tertarik pada proses penemuan yang bersifat bagian-bagian dari suatu komponen.

 

 

  1. proses berfikir analisis

 

  1. proses berfikir yang mementingkan tata urutan secara sekuensial dan serial
  2. proses berfikir temporal, terikat pada waktu kini
  3. proses berfikir verbal, matematis, notasi musikal.
  1. tertarik pada proses pengintegrasian dari bagian-bagian suatu komponen menjadi satu kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh
  2. proses berfikir yang bersifat relasional, konstruksional, dan membangun suatu pola.
  3. proses berfikir simultan, dan paralel
  4. proses berfikir lintas ruang, tidak terikat pada waktu kini
  5. proses berfikir yang bersifat visual, lintas ruang dan musikal.

 

    Berikut disajikan berbagai perilaku dan kaitannya dengan berfikir kreatif dan kritis pada diri siswa.

PERILAKU 

TERKAIT DENGAN 

  • Bosan dengan tugas rutin; menolak membuat pekerjaan rumah
  • Tidak berminat terhadap detail dan pekerjaan kotor
  • Membuat lelucon atau komentar pada saat tidak tepat
  • Menolak otoritas, tidak konformistis, keras kepala
  • Sukar beralih pada topik lain
  • Emosional sensitif, overacting, cepat marah atau menangis kalau ada yang salah
  • Kecenderungan dominasi
  • Sering tak setuju ide orang lain atau tak setuju ide gurunya
  • Kritis terhadap diri, tak sabar menghadapi kegagalan
  • Kritis terhadap guru dan orang lain.

Kreativitas

  • Toleransi tinggi untuk makna ganda,
  • Berfikir bebas, divergen
  • Berani ambil resiko
  • Imaginatif, sensitif

 

Motivasi

  • Tekun dalam bidang yang diminatinya
  • Intens dalam menghayati perasaan dan nilai
  • Bebas

 

Berfikir kritis

  • Dapat melihat kesenjangan antara kenyataan dan kebenaran
  • Mengacu pada hal-hal yang ideal
  • Mampu menganalisis dan evaluasi.

 

 

 

KEPUSTAKAAN

Johnson, Elaine B. (2002). Contextual Teaching and Learning. California : A Sage Publications Company.

 

Laster, Lan. (1985). The school of the future : some teachers view on education in the year 2000. UK.

 

Reigeluth, C.M. (1983). Instruction design theories and models, an overview of their current status. London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

 

 

 

CONTOH 1

RENCANA PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL

 

Mata Pelajaran         : IPA

Kelas                :

Semester            :

Waktu                : 2 x 40 menit ( 1 kali pertemuan)

 

  1. Tujuan

    Siswa dapat membedakan antara tumbuhan berbiji tunggal dengan tumbuhan berbiji banyak

 

  1. Media
  1. lima kantung plastik ukuran 30 x 20 mc
  2. biji-bijian masing-masing 20 butir

    biji kacang tanah        biji aren        biji kenari

    biji rambutan            biji salak

    biji jambe            biji kedelai

  1. lima pasang gambar, yang masing-masing menunjukkan jenis akar tumbuhan berbiji tunggaldan berbiji jamak.

 

Catatan : setiap kantung plastik diisi dengan lima butir biji-bijian dari masing-masing jenis.

 

  1. Skenario Pembelajaran
  1. sebagai kegiatan pembuka, guru menanyakan kepada siswa tentang :
    1. buah-buahan yang setiap hari dikonsumsinya
    2. biji-bijian bahan pembuat makanan
  2. siswa dibagi dalam lima kelompok, per kelompok menyebar mencari tempat, boleh di lantai, boleh menghadap meja (dan atau tiga meja disatukan).
  3. siswa menerima satu kantung plastik biji-bijian dsn dua lembar gambar (gambar akar yang di sampingnya berupa kolom yang bisa diisi biji-bijian)
  4. siswa membuka kantung plastik, kemudian mengamati secara teliti biji-bijian yang ada
  5. berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, siswa mengelompokkan biji-bijian berdasarkan bentuk akar yang ditunjukkan dalam gambar
  6. siswa menempatkan biji-bijian yang telah dipisahkannya ke dalam kotak/kolom yang ada di samping gambar
  7. siswa membuat catatan tentang pengelompokan jenis biji-bijian dengan istilah yang ditemukannya sendiri.
  8. setelah tiga puluh menit bekerja, siswa menyampaikan secara lisan temuannya
  9. guru memberi komentar temuan siswa dengan menyesuaikan istilah yang digunakan siswa dengan istilah dalam IPA
  10. selanjutnya, dengan cara “sharing”, siswa menyebutkan sebanyak mungkin contoh tumbuh-tumbuhan untuk masing-masing jenis
  11. sebagai kegiatan akhir, siswa diminta mengungkapkan sejumlah komoditas biji-bijian unggulan di Indonesia

 

  1. Penilaian

    Penilaian untuk kegiatan ini didasarkan pada :

  1. kerja sama dalam kelompok
  2. format lembar kerja yang telah diisi siswa
  3. catatan yang dibuat siswa

 

RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS CTL

Topik/Kegiatan    : Mendeskripsikan Benda Misteri

Kompetensi Dasar    : Menulis Paragraf Deskripsi

Bidang Studi    : Bahasa Indonesia

Kelas/Caturwulan    : 2/2

Waktu    : 90 menit

 

A. Tujuan

Melatih siswa mendeskripskan ciri dan menemukan karakteristik benda-benda, kemudian mengungkapkannya dalam sebuah paragraf deskriptif.

 

B. Media    

Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan media:

  1. 4 buah benda misteri yang dibungkus rapi (korek api, kotak sabun, akar pohon, dll).
  2. 1 lembar pengamatan.

 

C. Skenario Pembelajaran

  1. Guru menjelaskan rencana kegiatan saat itu, yaitu mendeskripsikan benda misteri. Kemampuan yang dilatihkan adalah cara mendeskripsikan atau menemukan ciri benda-benda.
  2. Siswa dibagi dalam empat kelompok, dengan cara guru menghitung siswa satu, dua, tiga, dan empat. Yang nomor satu, masuk kelompok satu, yang nomor dua masuk kelompok dua, dan seterusnya.
  3. Guru membagi benda yang telah disiapkan. Jangan sampai kelompok lain ‘mengintip’. Kemudian dibagikan juga blanko.
  4. Siswa mendeskripsikan benda misteri dengan mengisi blangko yang ada. Pertama menjelaskan ciri benda dengan dua kata, kemudian dalam kalimat. Usahakan deskripsinya lengkap, tetapi tidak merujuk pada benda api itu.
  5. Setelah 15 menit, secara bergantian masing-masing kelompok mendeskripsikan secara lisan benda itu. Setelah itu, kelompok lain menebaknya. Sebelum menebak, kelompok lain boleh bertanya.
  6. Siswa menyusun sebuah paragraf deskripsi berdasarkan data yang diperolehnya secara kelompok.

 

 

 

D. Penilaian

Data kemajuan belajar diperoleh dari:

  1. Partisipasi setiap siswa dalam kerja kelompok.
  2. Lembar pengumpulan data deskriptif.
  3. Cara siswa menyampaikan ulasan deskriptif secara lisan.
  4. Paragraf deskripsi yang ditulis siswa.

CATATAN:

Setelah berakhir, lakukan refleksi atas pembelajaran itu!

  • Tanyakan kepada siswa, “Apakah kalian senang dengan kegiatan tadi?” Dengan cara itu, kalian lebih mudah menyusun paragraf deskripsi.
  • Refleksi CTL
    • Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendeskripsikan yang ditempuh siswa.
    • Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul, dan menebak.
    • Learning community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelompok lain.

     

    CONTOH 3

RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS CTL

Topik    : Mendeskripsikan Ikan dan Perilakunya

Bidang Studi    : Integrasi antara IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia

Waktu    : 90 menit

A. Tujuan

Melatih siswa menemukan, menganalisis, mengamati, menggambarkan, menyajikan secara visual, dan menyajikan di hadapan orang banyak ikan dan perilakunya.

B. Media

Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan media:

  1. Lima topless atau gelas, yang masing-masing sudah diisi seekor ikan (besarnya disesuaikan dengan gelas).
  2. Lima lembar kertas karton (manila) untuk membuat gambar.
  3. 5 termometer pengukur suhu air.
  4. 5 penggaris.
  5. 5 spidol warna (atau lebih).
  6. 10 lembar kertas kwarto.

 

C. Skenario pembelajaran

  1. Kelas dibagi lima kelompok.
  2. Masing-masing kelompok menghadap meja yang di atasnya telah tersedia 1 toples berisi air dan ikan, penggaris, termometer, dan kertas manila, masing-masing satu buah. Juga dua lembar kertas kwarto.
  3. Selama empat puluh menit, siswa mengamati ikan yang ada di toples. Siswa diminta mengamati ikan itu, mencatat semua yang mereka amati: ukuran warna, kira-kira beratnya, dll., dan perilakunya.
  4. Siswa menyajikan hasil pengamatan di kertas karton. Kreativitas dalam menyajikan ide hasil pengamatan sangat dihargai: boleh dengan gambar, bagan, atau verbal. Juga, apakah siswa mampu membedakan antara data kuantitatif dan data kualitatif yang mereka temukan.
  5. Diwakili oleh salah seorang anggota, setiap kelompok menyajikan hasilnya.
  6. Sharing dalam kelas mengenai apa-apa yang bisa diamati dari kehidupan seekor ikan: warna, ukuran, tebal, berapa kali bernapas setiap menit, dsb.
  7. Berikan ‘bonus’ untuk penampil terbaik! (gambar bintang, permen, bolepen, dsb.)

D. Authentic Assessment

  • Partisipasi siswa dalam kerja kelompok.
  • Kualitas display hasil pengamatan.

Catatan dari rp itu

  • Ilmu dan pengalaman diperoleh siswa dari menemukan sendiri. Itu berarti konstruktivisme.
  • Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendeskripsikan yang ditempuh siswa.
  • Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul, dan menebak.
  • Learning community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelompok lain.
  • Authentic assessment: yang dinilai dari kegiatan itu adalah kerja sama dalam kelompok dan hasil presentasi siswa.

     

 

 


 

Oleh: 8u9a | Januari 21, 2011

NASKAH FESTIVAL SENDRATARI

PULASTHA ASMARA TIBRA

KONTINGEN KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga kontingen sendratari Sleman tahun 2010 dapat menyelesaikan persiapan sendratari dan dapat dipastikan mengirimkan wakil kontingen untuk turut berperan aktif dalam ajang Festival Sendratari Tingkat Kabupaten / Kota se-Propinsi DIY yang saat ini akan diselenggarakan di Pendapa Tedjokusumo Universitas Negeri Yogyakarta Kuningan Catur Tunggal Depok Sleman, pada tanggal 29 dan 30 Oktober 2010.

    Selain dari pada itu kerja keras dari para tim Produksi kontingen Sendratari Kabupaten Sleman yang secara tekun dan tidak kenal putus asa dan rasa lelah membuat terselesainya karya tari ini tepat pada waktunya dengan judul “Pulastha Asmara Tibra”.

    Selanjutnya ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh rekan seniman tari dan karawitan Kabupaten Sleman yang mendukung secara langsung atau tidak langsung dalam garapan ini serta selalu memberikan masukan, bantuan tenaga, pikiran, moril sehingga karya tari dari Kontingen Sendratari Kabupaten Sleman ini dapat diselesaikan.

    Selanjutnya ucapan terima kasih serta arahan yang selalu ditunggu kami harapkan dari:

  1. Bupati Kabupaten Sleman untuk terlaksananya program yang kami rancang dalam karya Sendratari ini.
  2. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, atas dukungan peran sertanya dalam program melaksanakan pembinaan dan pengembangan kreatifitas seni khususnya seni Tari di Kabupaten Sleman.
  3. Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, atas peranan aktif dalam kerja sama dan memantau di lapangan dalam proses kerja tim produksi kontingen Sendratari Kabupaten Sleman.
  4. Seluruh pendukung Kontingen Sendratari Kabupaten Sleman, memberikan tenaga dan fikiran, serta semangat untuk terlaksananya seluruh kegiatan ini.

Selanjutnya ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

 

  1. LATAR BELAKANG

    Kabupaten Sleman merupakan salah satu wilayah Propinsi DIY yang memiliki potensi seni khususnya bidang seni tari beberapa kali meraih predikat baik. Keberadaan kabupaten Sleman yang strategis dekat dengan kota Yogyakarta dan memiliki Perguruan Tinggi Negeri seperti Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang di dalamnya mencakup Fakultas bahasa dan Seni, serta telah melahirkan generasi muda seni secara aktif dan kreatif dalam bidang Seni Tari yang merupakan aset budaya dan harapan untuk masa depan seni di Kabupaten Sleman. Meski tidak menutup kemungkinan peran serta sanggar-sanggar Tari yang ada di Wilayah kabupaten Sleman untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung kegiatan ini.

    Sebagai insan budaya Kota Yogyakarta diwajibkan untuk turut berperan serta secara aktif melestarikan, melaksanakan pembinaan dan pengembangan kreativitas seni khususnya Seni Tari, agar selalu menjunjung tinggi identitas masyarakat kota Yogyakarta sebagai insan yang berbudi dan berbudaya luhur.

    Dalam pelaksanaannya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman melalui Bidang Kesenian memanggil seniman tari dan karawitan untuk membuat sebuah tim Produksi Sendratari agar terwujudnya kontingen Sendratari yang akan dikirim ke tingkat Propinsi dalam ajang Festival Sendratari Tingkat Kabupaten / Kota se-Propinsi DIY. Terwujudnya Tim Produksi Sendratari Kabupaten membuat kesepakatan untuk membuat karya tari garapan dengan mengambil tema asmara Panji, sumber Cerita Panji yang telah ditentukan oleh Panitia Penyelenggara Festival Sendratari antar Kabupaten kota se- Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, agar tidak keluar dari rambu-rambu yang telah disepakati bersama.

     

    1. IDE GARAPAN

      Pada ketentuan Cerita Panji sebagai Sumber Cerita dari Panitia Penyelenggara Festival Sendratari antar Kabupaten kota se- Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, maka sutradara dan penata tari menentukan garapan tema dramatik tentang kisah cerita percintaan Panji Inukertapati yang mencintai dua wanita yaitu Angreni dan Galuh Candrakirana. Hal ini agar sebagai dasar pijakan sekaligus untuk batasan dari karya ini. Dalam pengembangannya cerita digarap sesuai dengan interpertasi atau sanggit penata tari agar sajian dapat menarik sesuai dengan kaidah tari klasik gaya Yogyakarta yang sudah dikembangkan.

       

    2. SUMBER GARAPAN

      Sumber garapan ini antara lain dari buku, artikel enternet, video yang mengungkap tentang kisah cerita Panji antara lain:

  • Dr. Agus Aris Munandar, Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, ditulis di enternet pada hari Kamis, 29 Juli 2010.
  • Opera Panji: Kisah Cinta Segitiga Pangeran Jenggala, Jakarta, Kompas.com, Senin, 27 Juli 2009 / 16.32 WIB
  • Panji Cutra Pahlawan Nusantara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987
  • Cerita Panji Dalam Perbandingan, Poerbatjaraka, 1968

     

  1. RANCANGAN GARAPAN SENDRATARI
    1. SINOPSIS

      “Pulastha Asmara Tibra”

      Asmara iku wuta, paribasane patrape kaya ambabiwuta, Tan bisa mawas bener lan luput kang ana amung hardaning karsa kang kemudu- kudu selak bisa anggarwa. Sapa kang kataman asmara mesthi bakal kena pekathik dening kridhaning asmara, kang ana among ngronce tembung manis, ngronce kanikmatan kang pepuntone tekad kudu bisa methik sekar tetungguling sekaring taman sari. Pulasthaning asmara kang ginayuh tibra, tumpes tapis, kasandhang.

       

    2. RANCANGAN DESAIN GERAK DAN RUANG

      Karya ini dilatarbelakangi oleh rangsang visual dan rangsang kinestetis yang hadir ketika setiap kali penata melihat dan melakukan gerak, pengamatan tertuju pada kukuatan gerak yang selalu hadir dalam pathokan Joget Mataram yaitu sawiji greget sengguh ora mingkuh, pada setiap pementasan Tari Klasik dan Garapan Gaya Yogyakarta. Sesuai dengan ketentuan ruang atau tempat yang akan dipakai pada penyelenggara maka konsep tempat juga menggunakan konsep Pendapa.

      Dalam rincian adegan sebagai berikut:

Adegan Introduksi

  • Mimpi Angreni ternyata Panji memilih Galuh
  • Kesadaran Angreni untuk menjadi tumbal karena akan terjadi perang besar antara Jenggala dengan Kediri apabila ia tetap mengharapkan cinta Panji.

Adegan I

  • Panji terperangjat, betapa sedihnya ketika datang dengan tiba-tiba Angreni sudah tidak bernyawa, hingga terjadilah goncangan jiwa antara anggapan kekasih masih hidup dengan mati.
  • Suatu ketika Panji mendapatkan firasat akan menemukan cintanya dengan jalan kekerasan dan peperangan semua kerajaan yang ditemuinya.

Adegan II

  • Galuh Candrakirana meninggalkan kerajaan Kediri dengan perasaan sedih, akibat tunangannya mempunyai wanita lain dalam hidupnya.
  • Galuh sampai di Bali

Adegan III

  • Suasana Kerajaan Bali dengan raja Jayaasmara sedang mengadakan pertemuan, dan datangnya Panji menantang, hingga terjadilah peperangan yang mengakibatkan terkalahnya raja Jayaasmara.
  • Terjawablah firasat Panji bertemu dengan kekasihnya.

 

  1. RANCANGAN IRINGAN TARI

    Iringan dihadirkan untuk memberikan suasana hidup sebuah garapan, tetapi juga dapat dijadikan sebagai pegangan untuk melahirkan ketukan yang dibutuhkan untuk menjadikan karya menengah dalam durasi waktu yang cukup panjang, dinamis dan enak untuk ditonton, tanpa harus mengesampingkan etika dan estetika. Iringan pada garapan ini menggunakan seperangkat gamelan Jawa dengan laras pelog dan slendro sebagai iringan pokok, kemudian dilengkapi dengan rebana, klinthing, kecrek sebagai instrument pendukung, yang kemudian diramu dan dipadukan antara gamelan dengan bentuk instrument dari kulitan(rebana dan bedhug), dengan harapan akan terciptanya sebuah garapan iringan Klasik. Konsep yang sangat sederhana namun dapat melahirkan suasana seperti yang dikehendaki oleh kesatuan sendratari.

  2. RANCANGAN KOSTUM

    Tata busana mengacu pada konsep tari gaya Yogyakarta yaitu dengan mengenakan busana tari klasik gaya Yogyakarta yang sudah dikembangkan, dan sedikit mempunyai modifikasi dengan kostum wayang topeng Malang.

    Penari rampak putra menggunakan celana Panji dengan warna dasar hitam dilengkapi dengan ornamen garis plisir keemasan, kain menggunakan bentuk sapit urang yang dikembangkan dengan bokongan dan rampek, dengan warna dasar oranye, hitam hijau dan putih. Mempergunakan hiasan badan kaweng, klat bahu, kalung penanggalan, serta menggunakan binggel. Hiasan kepala jamang gelung dan
    sumping.

    Penari rampak putri mempergunakan kain seredan panjang untuk dikembangkan sebagai pengganti sampur, memakai mekak, perhiasan kalung klat bahu dan giwang.

    Menggunakan hiasan kepala jamang, sumping dan permainan rambut yang diberi asesoris gelung kecil.

    Pemakaian busana tokoh sama dengan rampak hanya perbedaan warna serta penggunaan dari masin-masing asesoris yang disesuaikan dengan karakter yaitu peran putra gagah dan putri.

     

DAFTAR TIM PRODUKSI

  1. Pimpinan Produksi        : Supriyadi Hasto Nugroho M. Sn
  2. Sutradara            : Agus Sukina SSn
  3. Penata Tari            : Supriyanto SPd
  4. Penata Rias dan Busana    : Hendro Supadmo SSn
  5. Penata Iringan         : Sariyoto
  6. Penata Artistik        : Drs Suyadi
Oleh: 8u9a | Januari 1, 2011

Performing Arts in Indonesia

Art forms are not only based on folklore. Most of them have developed in the courts of former kingdoms so that, like in Bali, they have become part of religious ceremonies. The famous dance dramas of Java and Bali are derived from Hindu mythology and often feature  from the Ramayana and Mahabharata Hindu epics.

Narayana-janaka-punakawan

Puppets of the wayang kulit shadow play are made of intricately carved and colorfully painted leather, while the wayang golek puppets are made of the light but strong arbasiah wood and dressed in batik wooden puppets. Both the wayang kulit and wayang golek theaters are operated by the dalang (puppeteer) who manipulates the puppets and makes them “speak” in different voices and accents according to character age and/or sex. Besides, the dalang must be at the same time a composer, improviser, producer, orator, singer, choir master, dance master and stage manager. Wayang golek and wayang kulit performances are accompanied by the Javanese gamelan musical instruments. The wayang kulit performance is very popular with the people in Central Java, while the wayang golek is generally performed in West Java.

The bamboo angklung musical instruments of West Java and the wooden kolintang of North Sulawesi are widely known. Another kind of musical instrument which is also attractive and unique is the sasando of East Nusa Tenggara. Sasando is a stringed musical instrument made of lontar leaves and is handled like a guitar.

Oleh: 8u9a | Desember 18, 2010

SENYUM INDONESIA

Sebuah karya tari garapan baru produksi dari Plt Padepokan Bagong Kussudihardja pada tahun 2004 untuk lawatan ke Bangkok Thailand. Yang sampai sekarang masih menjadi Icon tampilan Plt Bagong K.

This slideshow requires JavaScript.

Penata tari Sutopo Tedjo Baskoro

Penata Iringan Djaduk Ferianto

Oleh: 8u9a | November 22, 2009

Karya Payung Berampai

“Payung Berampai” atau “Payung Marga Udik” adalah salah satu karya tari yang menjadi papan atas dimana sempat menjadi juara I pada lomba SILN 2009 di Makassar pada  tanggal 14 – 18 November 2009 ini.

Judul karya tari ini diilhami dari property tari yang menggunakan payung dimana semua aspek ide gerak diambil dari gerak Sumatra yang mempergunakan langkah kaki double step dan satu step.

Ide tema garapan tari mengambil dari pergaulan pertemanan anak muda disebuah etnis terpencil di daerah Melayu.

Karya yang digarap selama 2 bulan dengan editting musik dan penggarapan kostum tari yang tidak mudah, dilalui dengan penuh semangat dan tidak lepas dari sebuah pengorbanan.

Dari berbagai lagu yang kemudian dikompilasi secara runut disesuaikan dengan teori dinamika pertunjukan menjadi ide awal untuk mencari gerak yang sesuai pula dengan keutuhan garapan tari.

Karya ini adalah karya yang ke 27, dimana sempat menjadi puncak kejayaan bagi SIB Bangkok karena telah mengantarkan pula pada Juara UMUM lomba SILN 2009 di Makassar.

Oleh: 8u9a | Mei 3, 2009

THAILAND MENCEKAM’09

BERITA kaledoskop THAILAND MENCEKAM’09

Dalam kejadian kemarin terjadi benturan di beberapa tempat radius 1-4 km dari KBRI Bangkok seperti Pracha Songkroh (Depan Gereja Lady of Fatima), Pertigaan Din Daeng, Perempatan Ratchaprarop, Perempatan Sri Ayutthaya (Depan Kemlu), Urupong, Kingpet (Soi 5 dan Soi 7),  Yommarat (dekat Pasar Mahanak dan RS Mission), NangLaeng (depan Pacuan Kuda dekan Govt. House), Jembatan Phan Fah (Dekat Kuil Golden Mount) dan Mabes AD (dekat Kementerian Pendidikan dan UNESCAP), Depan Suan Amphorn, Kuil Benjamabhopit (perempatan dekat Istana Chitralada) dan depan Gedung Partai Demokrat.

Militer dan pemerintah BMA mulai membersihkan jalan-jalan yang tertutup bis terbakar dan manuver untuk membubarkan massa yang sekarang terpusat di sekitar Government House yang posisinya sudah terkepung militer. Militer sedang bergerak masuk ke Government House. Kelompok Merah menyatakan akan bertahan sampai titik darah penghabisan. (Semoga tidak sampai timbul korban jiwa.. Amin. Doakan saja)

Beberapa jalan di sekitar Government House masih tutup untuk pengamanan atau karena otoritas terkait masih membersihkan jalan atau melakukan pemeriksaan/identifikasi TKP. Dan beberapa bis dioperasikan tidak sampai tujuan trayek terakhir, jadi jangan heran sekiranya naik bis turun ditengah jalan (mis. hanya sampai pratunam, dll). Sementara ini, jalan ke pasar Mahanak dan RS Mission masih tutup. Didepan Soi 7 masih dalam keadaan siaga untuk antisipasi serangan kelompok merah seperti kemarin yang tampaknya akan balas dendam, tentara stand by didepan soi.

Beberapa Dept Store dekat KBRI seperti Paragon, Central World, Central Chidlom masih tutup diharapkan dapat dibuka hari rabu besok dan menunggu evaluasi lebih lanjut. Tapi MBK buka tapi bank-bank ditutup. Beberapa SPBU di sekitar TKP masih tutup.
Catatan: Ada juga beberapa Toko disamping tutup karena Songkran juga bukan karena situasi keamanan.

Meski secara umum pemerintah/militer dapat mengendalikan situasi namun sebaiknya kita berwaspada terutama dari gang motor yang sewaktu-waktu memperkeruh situasi dengan melakukan penembakan sporadis seperti semalam ada 1 tentara di tempak jembatan Saphan hua Chang (dekat Asia Hotel), jangan mendekati daerah-daerah rawan konflik. Apabila ada keganjilan siaga saja seperti jalan di mall tiba-tiba toko tutup.

untuk sementara ini apabila mau berjalan jauh dengan taksi kami sarankan dengan taksi panggilan apabila jalan jauh seperti ke airport (telpon 1681). Untuk melakukan perkembangan keadaan dapat dipantau melalui Thai TV (free TV) atau nation TV/radio (bisa dibuka lewat www.nationchannel.com). Untuk informasi jalan raya bisa telepon polisi (tel. 191). Informasi bis (184).

Oleh suleman Selasa, 14 April, 2009, 4:02 AM

Oleh: 8u9a | April 12, 2009

The world of entertainment in Bangkok’09

The development of art and culture depends on the political elements, for someone to celebrate a sense of security based on something comfortable. While the political conditions in the civil state is not stabilized Thailand beginning in 2009.
opposite party just think that one of their personal time.
From the yellow group previously showed that up want to win therefore lost millions of baht.demo21

after the mission and after the coup was successful, now turn the party does not turn red with the receipt of government have, to be defeated Ktt Asean. As if other nations do not believe the person who does not act responsible. Until now my question is who or where the State seeking the benefits behind all this?
This is the government forbade the evening entertainment, such as crop art. So, What in your opinion?

Oleh: 8u9a | Desember 2, 2008

bisnis modal gratis

kerja sampingan juga bisa lebih menguntungkan.. kita lihat bersama-sama kita pelajari bersama-sama ya!!<a href=”Like this post? Publish It On Your Own Blog“>

Oleh: 8u9a | November 18, 2008

Sib dan Transtv

Speak Up Thailand

Anak-anak gampang sekali jadi korban kekerasan// Entah itu di rumah sendiri, di sekolah atau tempat mereka bermain
Kalau di Indonesia kita kenal dengan istilah gencet-gencetan/plonco atau semacam bullying gitu deh/….eits… jangan salah itu termasuk kekerasan ,…. supaya anak-anak korban kekerasan di sekolah berani ngomong , di Thailand ini ada kampanye namanya “berani to speak-up!!!!!! tujuannya apa?
Supaya ngurangin bullying yang nggak penting itu, Ini liputannya…..

By Irena, Transtv
Begitulah sekilas opening naskah yang rencananya ditayangkan minggu pagi 23 November 2008 dalam acara cerita anak/surat untuk teman2, yang diperankan oleh Ilham, kemudian di lanjutkan dialog duet Fifi dan Shinta, segmen berikutnya Calvin tampil untuk mengungkap Konvensi hak anak sedunia “JENEWA”

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.