Oleh: 8u9a | Januari 21, 2011

NASKAH FESTIVAL SENDRATARI

PULASTHA ASMARA TIBRA

KONTINGEN KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga kontingen sendratari Sleman tahun 2010 dapat menyelesaikan persiapan sendratari dan dapat dipastikan mengirimkan wakil kontingen untuk turut berperan aktif dalam ajang Festival Sendratari Tingkat Kabupaten / Kota se-Propinsi DIY yang saat ini akan diselenggarakan di Pendapa Tedjokusumo Universitas Negeri Yogyakarta Kuningan Catur Tunggal Depok Sleman, pada tanggal 29 dan 30 Oktober 2010.

    Selain dari pada itu kerja keras dari para tim Produksi kontingen Sendratari Kabupaten Sleman yang secara tekun dan tidak kenal putus asa dan rasa lelah membuat terselesainya karya tari ini tepat pada waktunya dengan judul “Pulastha Asmara Tibra”.

    Selanjutnya ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh rekan seniman tari dan karawitan Kabupaten Sleman yang mendukung secara langsung atau tidak langsung dalam garapan ini serta selalu memberikan masukan, bantuan tenaga, pikiran, moril sehingga karya tari dari Kontingen Sendratari Kabupaten Sleman ini dapat diselesaikan.

    Selanjutnya ucapan terima kasih serta arahan yang selalu ditunggu kami harapkan dari:

  1. Bupati Kabupaten Sleman untuk terlaksananya program yang kami rancang dalam karya Sendratari ini.
  2. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, atas dukungan peran sertanya dalam program melaksanakan pembinaan dan pengembangan kreatifitas seni khususnya seni Tari di Kabupaten Sleman.
  3. Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, atas peranan aktif dalam kerja sama dan memantau di lapangan dalam proses kerja tim produksi kontingen Sendratari Kabupaten Sleman.
  4. Seluruh pendukung Kontingen Sendratari Kabupaten Sleman, memberikan tenaga dan fikiran, serta semangat untuk terlaksananya seluruh kegiatan ini.

Selanjutnya ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

 

  1. LATAR BELAKANG

    Kabupaten Sleman merupakan salah satu wilayah Propinsi DIY yang memiliki potensi seni khususnya bidang seni tari beberapa kali meraih predikat baik. Keberadaan kabupaten Sleman yang strategis dekat dengan kota Yogyakarta dan memiliki Perguruan Tinggi Negeri seperti Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang di dalamnya mencakup Fakultas bahasa dan Seni, serta telah melahirkan generasi muda seni secara aktif dan kreatif dalam bidang Seni Tari yang merupakan aset budaya dan harapan untuk masa depan seni di Kabupaten Sleman. Meski tidak menutup kemungkinan peran serta sanggar-sanggar Tari yang ada di Wilayah kabupaten Sleman untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung kegiatan ini.

    Sebagai insan budaya Kota Yogyakarta diwajibkan untuk turut berperan serta secara aktif melestarikan, melaksanakan pembinaan dan pengembangan kreativitas seni khususnya Seni Tari, agar selalu menjunjung tinggi identitas masyarakat kota Yogyakarta sebagai insan yang berbudi dan berbudaya luhur.

    Dalam pelaksanaannya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman melalui Bidang Kesenian memanggil seniman tari dan karawitan untuk membuat sebuah tim Produksi Sendratari agar terwujudnya kontingen Sendratari yang akan dikirim ke tingkat Propinsi dalam ajang Festival Sendratari Tingkat Kabupaten / Kota se-Propinsi DIY. Terwujudnya Tim Produksi Sendratari Kabupaten membuat kesepakatan untuk membuat karya tari garapan dengan mengambil tema asmara Panji, sumber Cerita Panji yang telah ditentukan oleh Panitia Penyelenggara Festival Sendratari antar Kabupaten kota se- Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, agar tidak keluar dari rambu-rambu yang telah disepakati bersama.

     

    1. IDE GARAPAN

      Pada ketentuan Cerita Panji sebagai Sumber Cerita dari Panitia Penyelenggara Festival Sendratari antar Kabupaten kota se- Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, maka sutradara dan penata tari menentukan garapan tema dramatik tentang kisah cerita percintaan Panji Inukertapati yang mencintai dua wanita yaitu Angreni dan Galuh Candrakirana. Hal ini agar sebagai dasar pijakan sekaligus untuk batasan dari karya ini. Dalam pengembangannya cerita digarap sesuai dengan interpertasi atau sanggit penata tari agar sajian dapat menarik sesuai dengan kaidah tari klasik gaya Yogyakarta yang sudah dikembangkan.

       

    2. SUMBER GARAPAN

      Sumber garapan ini antara lain dari buku, artikel enternet, video yang mengungkap tentang kisah cerita Panji antara lain:

  • Dr. Agus Aris Munandar, Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, ditulis di enternet pada hari Kamis, 29 Juli 2010.
  • Opera Panji: Kisah Cinta Segitiga Pangeran Jenggala, Jakarta, Kompas.com, Senin, 27 Juli 2009 / 16.32 WIB
  • Panji Cutra Pahlawan Nusantara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987
  • Cerita Panji Dalam Perbandingan, Poerbatjaraka, 1968

     

  1. RANCANGAN GARAPAN SENDRATARI
    1. SINOPSIS

      “Pulastha Asmara Tibra”

      Asmara iku wuta, paribasane patrape kaya ambabiwuta, Tan bisa mawas bener lan luput kang ana amung hardaning karsa kang kemudu- kudu selak bisa anggarwa. Sapa kang kataman asmara mesthi bakal kena pekathik dening kridhaning asmara, kang ana among ngronce tembung manis, ngronce kanikmatan kang pepuntone tekad kudu bisa methik sekar tetungguling sekaring taman sari. Pulasthaning asmara kang ginayuh tibra, tumpes tapis, kasandhang.

       

    2. RANCANGAN DESAIN GERAK DAN RUANG

      Karya ini dilatarbelakangi oleh rangsang visual dan rangsang kinestetis yang hadir ketika setiap kali penata melihat dan melakukan gerak, pengamatan tertuju pada kukuatan gerak yang selalu hadir dalam pathokan Joget Mataram yaitu sawiji greget sengguh ora mingkuh, pada setiap pementasan Tari Klasik dan Garapan Gaya Yogyakarta. Sesuai dengan ketentuan ruang atau tempat yang akan dipakai pada penyelenggara maka konsep tempat juga menggunakan konsep Pendapa.

      Dalam rincian adegan sebagai berikut:

Adegan Introduksi

  • Mimpi Angreni ternyata Panji memilih Galuh
  • Kesadaran Angreni untuk menjadi tumbal karena akan terjadi perang besar antara Jenggala dengan Kediri apabila ia tetap mengharapkan cinta Panji.

Adegan I

  • Panji terperangjat, betapa sedihnya ketika datang dengan tiba-tiba Angreni sudah tidak bernyawa, hingga terjadilah goncangan jiwa antara anggapan kekasih masih hidup dengan mati.
  • Suatu ketika Panji mendapatkan firasat akan menemukan cintanya dengan jalan kekerasan dan peperangan semua kerajaan yang ditemuinya.

Adegan II

  • Galuh Candrakirana meninggalkan kerajaan Kediri dengan perasaan sedih, akibat tunangannya mempunyai wanita lain dalam hidupnya.
  • Galuh sampai di Bali

Adegan III

  • Suasana Kerajaan Bali dengan raja Jayaasmara sedang mengadakan pertemuan, dan datangnya Panji menantang, hingga terjadilah peperangan yang mengakibatkan terkalahnya raja Jayaasmara.
  • Terjawablah firasat Panji bertemu dengan kekasihnya.

 

  1. RANCANGAN IRINGAN TARI

    Iringan dihadirkan untuk memberikan suasana hidup sebuah garapan, tetapi juga dapat dijadikan sebagai pegangan untuk melahirkan ketukan yang dibutuhkan untuk menjadikan karya menengah dalam durasi waktu yang cukup panjang, dinamis dan enak untuk ditonton, tanpa harus mengesampingkan etika dan estetika. Iringan pada garapan ini menggunakan seperangkat gamelan Jawa dengan laras pelog dan slendro sebagai iringan pokok, kemudian dilengkapi dengan rebana, klinthing, kecrek sebagai instrument pendukung, yang kemudian diramu dan dipadukan antara gamelan dengan bentuk instrument dari kulitan(rebana dan bedhug), dengan harapan akan terciptanya sebuah garapan iringan Klasik. Konsep yang sangat sederhana namun dapat melahirkan suasana seperti yang dikehendaki oleh kesatuan sendratari.

  2. RANCANGAN KOSTUM

    Tata busana mengacu pada konsep tari gaya Yogyakarta yaitu dengan mengenakan busana tari klasik gaya Yogyakarta yang sudah dikembangkan, dan sedikit mempunyai modifikasi dengan kostum wayang topeng Malang.

    Penari rampak putra menggunakan celana Panji dengan warna dasar hitam dilengkapi dengan ornamen garis plisir keemasan, kain menggunakan bentuk sapit urang yang dikembangkan dengan bokongan dan rampek, dengan warna dasar oranye, hitam hijau dan putih. Mempergunakan hiasan badan kaweng, klat bahu, kalung penanggalan, serta menggunakan binggel. Hiasan kepala jamang gelung dan
    sumping.

    Penari rampak putri mempergunakan kain seredan panjang untuk dikembangkan sebagai pengganti sampur, memakai mekak, perhiasan kalung klat bahu dan giwang.

    Menggunakan hiasan kepala jamang, sumping dan permainan rambut yang diberi asesoris gelung kecil.

    Pemakaian busana tokoh sama dengan rampak hanya perbedaan warna serta penggunaan dari masin-masing asesoris yang disesuaikan dengan karakter yaitu peran putra gagah dan putri.

     

DAFTAR TIM PRODUKSI

  1. Pimpinan Produksi        : Supriyadi Hasto Nugroho M. Sn
  2. Sutradara            : Agus Sukina SSn
  3. Penata Tari            : Supriyanto SPd
  4. Penata Rias dan Busana    : Hendro Supadmo SSn
  5. Penata Iringan         : Sariyoto
  6. Penata Artistik        : Drs Suyadi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.